Kelvin : Semua Orang Bisa Menjadi Pengamat, Tetapi Tidak Semua Orang Mampu Menjadi Pemimpin
Di era digital saat ini, menjadi pengamat adalah hal yang sangat mudah. Seseorang cukup memiliki akun media sosial, mengikuti perkembangan berita, lalu menyampaikan pendapatnya kepada publik. Dalam hitungan menit, sebuah kebijakan pemerintah, keputusan perusahaan, atau langkah seorang pemimpin dapat langsung memperoleh ribuan komentar, kritik, bahkan hujatan.
Menurut saya, kondisi tersebut merupakan bagian dari demokrasi yang sehat. Masyarakat memiliki hak untuk mengawasi, mengkritik, dan menyampaikan pendapat. Tidak ada pemimpin yang kebal terhadap kritik, dan memang seharusnya demikian.
Namun, saya juga melihat muncul fenomena lain. Banyak orang merasa mampu menilai sebuah keputusan, tetapi belum tentu memahami seluruh informasi, keterbatasan, risiko, dan tanggung jawab yang berada di balik keputusan tersebut.
Menjadi pengamat berarti melihat hasil dari luar. Menjadi pemimpin berarti harus menentukan arah di tengah ketidakpastian.
Seorang pengamat dapat dengan mudah mengatakan bahwa suatu kebijakan gagal. Namun seorang pemimpin harus mempertimbangkan puluhan bahkan ratusan variabel sebelum mengambil keputusan. Ia harus memikirkan dampaknya terhadap masyarakat, dunia usaha, stabilitas ekonomi, hubungan internasional, kondisi anggaran, hingga konsekuensi hukum yang mungkin muncul.
Dalam dunia bisnis pun demikian. Sangat mudah mengatakan sebuah perusahaan salah mengambil keputusan setelah hasilnya terlihat. Akan tetapi, keputusan bisnis sering kali dibuat berdasarkan informasi yang tersedia pada saat itu, bukan berdasarkan informasi yang baru diketahui setelah semuanya terjadi.
Menurut saya, masyarakat sering kali menilai kualitas seorang pemimpin hanya dari satu atau dua kebijakan yang sedang ramai diperbincangkan. Padahal, kepemimpinan tidak dapat diukur hanya dari satu keputusan. Kepemimpinan adalah kemampuan mengambil keputusan secara konsisten, mengelola risiko, menerima kritik, dan bertanggung jawab ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Saya juga berpendapat bahwa kritik yang baik seharusnya tidak berhenti pada kalimat “ini salah”. Kritik yang berkualitas seharusnya mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa alternatif yang lebih baik?
Mengatakan “ekonomi sedang buruk” mungkin mudah. Namun, bagaimana cara memperbaikinya? Apakah melalui kebijakan fiskal, moneter, reformasi birokrasi, peningkatan investasi, efisiensi anggaran, atau langkah lainnya? Di sinilah letak perbedaan antara sekadar mengomentari dan benar-benar memimpin.
Menurut saya, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap budaya yang terlalu cepat menghakimi. Tidak semua kebijakan yang tidak populer adalah kebijakan yang buruk. Sebaliknya, tidak semua kebijakan yang populer akan memberikan hasil terbaik bagi negara dalam jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa beberapa keputusan besar baru dapat dinilai manfaat atau kelemahannya setelah bertahun-tahun.
Hal yang sama berlaku bagi dunia usaha. Banyak orang menganggap seorang CEO hanya menikmati keuntungan perusahaan. Padahal, seorang pemimpin perusahaan memikul tanggung jawab besar terhadap ribuan karyawan, investor, pelanggan, hingga keberlangsungan perusahaan itu sendiri. Satu keputusan yang keliru dapat berdampak pada banyak orang.
Bagi saya, menjadi pemimpin bukan berarti selalu benar. Pemimpin tetap bisa melakukan kesalahan. Namun yang membedakan seorang pemimpin adalah keberaniannya mengambil keputusan ketika tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna, lalu bersedia mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.
Di sisi lain, saya juga tidak setuju apabila kritik dianggap sebagai ancaman. Kritik yang disampaikan secara objektif, berbasis data, dan bertujuan memperbaiki keadaan justru merupakan bagian penting dalam demokrasi. Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang anti kritik, melainkan mereka yang mampu membedakan kritik yang membangun dengan kritik yang hanya bertujuan memancing emosi atau popularitas.
Indonesia membutuhkan lebih banyak masyarakat yang tidak hanya pandai mengomentari, tetapi juga mampu memberikan solusi. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang berani mengambil keputusan sulit, lebih banyak akademisi yang memberikan rekomendasi berbasis penelitian, lebih banyak pengusaha yang menciptakan lapangan kerja, dan lebih banyak warga yang bersedia ikut berkontribusi, bukan hanya menjadi penonton.
Pada akhirnya, menurut saya, mengkritik adalah hak setiap warga negara. Namun sebelum menilai seorang pemimpin, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: apabila kita berada di posisi yang sama, dengan tanggung jawab, tekanan, dan risiko yang sama, apakah kita mampu mengambil keputusan yang lebih baik?
Karena pada akhirnya, semua orang bisa menjadi pengamat. Namun, tidak semua orang mampu menjadi pemimpin.
Konten Eksklusif Premium
Langganan Premium Rp 75.000 untuk membaca artikel ini selengkapnya.
Penulis: Kelvin yuka Yahya
Redaktur: Tim Redaksi