← Kembali ke Beranda

Kelvin: Mengapa Rokok Identik dengan Masyarakat Miskin?

Kelvin: Mengapa Rokok Identik dengan Masyarakat Miskin?

MataKelvin.com – Pertanyaan ini memang sensitif, tetapi justru karena sensitif, ia perlu dibahas secara jujur. Mengapa di banyak wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi, konsumsi rokok tetap sangat besar? Mengapa ketika pendapatan pas-pasan, kebutuhan dasar belum terpenuhi, dan masa depan keluarga masih rapuh, rokok justru tetap dipertahankan seolah-olah ia adalah kebutuhan pokok?

Pertama-tama, perlu ditegaskan bahwa ini bukan tuduhan terhadap semua orang miskin, dan bukan pula klaim bahwa semua perokok adalah orang miskin. Namun, data dan realitas lapangan menunjukkan pola yang sulit dibantah: rokok sangat lekat dengan kelompok berpenghasilan rendah. Di banyak rumah tangga miskin, rokok bukan lagi sekadar barang konsumsi, melainkan kebiasaan yang dinormalisasi, diwariskan, dan dipertahankan meski jelas merugikan.

Yang lebih mengkhawatirkan, rokok sering kali tidak diperlakukan sebagai pengeluaran serius. Banyak orang bisa sangat berhitung ketika membeli beras, minyak goreng, atau biaya sekolah, tetapi menjadi longgar ketika menyangkut rokok. Seolah-olah uang untuk rokok bukan bagian dari anggaran keluarga, padahal justru di situlah kebocoran terbesar sering terjadi. Dalam rumah tangga dengan pendapatan Rp2 juta per bulan, misalnya, membeli satu bungkus rokok seharga Rp25.000 setiap hari berarti menghabiskan sekitar Rp750.000 per bulan. Itu bukan angka kecil. Itu hampir seperempat dari pendapatan bulanan yang hilang untuk sesuatu yang tidak memberi nilai tambah apa pun.

Bayangkan jika uang sebesar itu dialihkan ke kebutuhan yang benar-benar produktif. Dalam setahun, jumlahnya bisa mencapai Rp9 juta. Dengan uang itu, seseorang bisa membayar biaya pendidikan anak, memperbaiki kondisi rumah, menambah modal usaha kecil, membeli perlengkapan kerja, atau setidaknya membangun dana darurat. Tetapi rokok tidak melakukan semua itu. Rokok hanya dibakar, dihisap, lalu hilang. Tidak ada aset yang tersisa. Tidak ada keterampilan yang bertambah. Tidak ada pendapatan yang naik. Yang ada justru beban kesehatan yang perlahan menumpuk.

Karena itu, jika kita ingin jujur, rokok bukan hanya soal pilihan pribadi. Rokok adalah persoalan ekonomi, kesehatan, budaya, dan kegagalan sistem sosial dalam melindungi kelompok rentan. Banyak orang miskin merokok bukan semata-mata karena mereka tidak tahu rokok berbahaya, tetapi karena mereka hidup dalam tekanan yang membuat kebiasaan itu terasa seperti pelarian. Rokok menjadi teman saat stres, menjadi simbol keakraban di lingkungan sosial, menjadi penanda maskulinitas di sebagian komunitas, bahkan menjadi “hiburan murah” bagi mereka yang tidak punya akses pada hiburan yang lebih sehat.

Namun, justru di titik inilah kritik harus lebih tajam. Jika rokok dipakai sebagai pelarian dari tekanan hidup, maka kita sedang menyaksikan bagaimana kemiskinan menciptakan kebiasaan yang memperdalam kemiskinan itu sendiri. Ini adalah lingkaran yang sangat merugikan. Orang miskin stres karena hidup sulit, lalu merokok untuk meredakan stres, lalu uangnya habis untuk rokok, lalu kondisi ekonominya makin berat, lalu stresnya bertambah. Siklus ini tidak memerdekakan siapa pun. Ia hanya membuat orang tetap bertahan di tempat yang sama, bahkan mundur lebih jauh.

Lebih buruk lagi, industri rokok sangat memahami pola ini. Mereka tidak menjual produk semata; mereka menjual citra, kebiasaan, dan ketergantungan. Iklan, sponsor, promosi terselubung, hingga harga yang dibuat terjangkau untuk pasar bawah adalah strategi yang sangat sadar. Artinya, masyarakat miskin bukan hanya korban kebiasaan, tetapi juga sasaran pasar yang sengaja dipertahankan agar terus membeli. Ini adalah ironi besar: kelompok yang paling rentan justru menjadi target utama dari produk yang paling merusak kesehatan dan keuangan mereka.

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap aspek sosialnya. Di banyak tempat, menolak rokok bisa dianggap tidak sopan, tidak gaul, atau tidak laki-laki. Anak muda belajar dari lingkungan bahwa merokok adalah tanda kedewasaan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah normalisasi perilaku yang mahal dan merusak. Ketika seorang ayah merokok di rumah, anak melihatnya sebagai hal biasa. Ketika seorang remaja melihat orang dewasa di sekitarnya merokok, ia belajar bahwa kebiasaan itu wajar. Dari sinilah siklus antargenerasi terbentuk. Kemiskinan tidak hanya diwariskan lewat kurangnya harta, tetapi juga lewat kebiasaan buruk yang dianggap lumrah.

Tentu saja, kita tidak boleh menyederhanakan masalah kemiskinan hanya menjadi soal rokok. Itu akan sangat tidak adil. Kemiskinan lahir dari banyak faktor: pendidikan yang rendah, lapangan kerja yang sempit, upah yang tidak layak, produktivitas yang rendah, akses modal yang terbatas, dan kebijakan ekonomi yang sering tidak berpihak pada rakyat kecil. Tetapi justru karena kemiskinan begitu kompleks, setiap kebocoran pengeluaran harus diperhatikan. Jika pendapatan kecil, maka pengeluaran yang tidak produktif menjadi jauh lebih berbahaya. Dalam kondisi seperti itu, rokok bukan sekadar kebiasaan buruk; ia adalah beban struktural di tingkat rumah tangga.

Masalahnya, banyak orang lebih mudah menyalahkan nasib daripada mengakui kebiasaan yang merugikan. Mereka mengeluh tidak punya tabungan, sulit membeli rumah, atau tidak mampu menyekolahkan anak sampai tinggi. Keluhan itu mungkin benar. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: berapa banyak uang yang sebenarnya habis untuk hal-hal yang tidak memberi masa depan? Berapa banyak keluarga yang sebenarnya bisa sedikit lebih aman secara finansial jika pengeluaran rokok dihentikan? Pertanyaan ini penting karena kemiskinan tidak selalu berarti tidak punya uang sama sekali; sering kali kemiskinan juga berarti uang yang sedikit itu bocor ke tempat yang salah.

Opini Kelvin

Menurut saya, masyarakat miskin tidak membutuhkan lebih banyak rokok. Mereka membutuhkan perlindungan dari kebiasaan yang menguras pendapatan, dari industri yang memanfaatkan kelemahan ekonomi mereka, dan dari budaya yang menganggap rokok sebagai sesuatu yang normal.

Jika kita benar-benar peduli pada pengentasan kemiskinan, maka pembicaraan tentang rokok tidak boleh berhenti pada slogan kesehatan. Ini harus menjadi pembicaraan tentang keadilan ekonomi. Mengapa produk yang jelas-jelas merusak masih begitu mudah diakses oleh kelompok paling rentan? Mengapa harga rokok masih relatif terjangkau sementara kebutuhan pokok terus naik? Mengapa negara sering terlihat lebih tegas memungut cukai daripada benar-benar melindungi keluarga miskin dari dampak jangka panjang konsumsi rokok?

Rokok tidak akan menaikkan pendapatan. Rokok tidak akan membayar uang sekolah. Rokok tidak akan memperbaiki rumah. Rokok tidak akan menambah keterampilan. Rokok tidak akan membuka peluang kerja. Yang dilakukan rokok hanyalah menghabiskan uang hari ini dan menagih biaya kesehatan di kemudian hari.

Jika seseorang ingin keluar dari kemiskinan, maka setiap rupiah harus diperlakukan sebagai alat pembangunan, bukan alat pembakaran. Uang kecil yang dikelola dengan disiplin bisa menjadi tabungan, modal, atau investasi. Uang kecil yang dihabiskan untuk rokok hanya akan menjadi asap. Dan asap, seberapa pun sering dihirup, tidak pernah berubah menjadi masa depan.