Kelvin: Teknik Lingkungan Sudah Tidak Relevan dengan Kondisi Sekarang?
Beberapa waktu terakhir saya berpikir, apakah jurusan Teknik Lingkungan masih relevan dengan kondisi dunia saat ini?
Jawaban saya mungkin akan mengejutkan banyak orang.
Bukan bidang ilmunya yang tidak relevan, tetapi cara sebagian perguruan tinggi mengajarkannya mulai tertinggal dibanding perkembangan industri.
Dunia telah berubah sangat cepat. Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, otomatisasi, hingga digitalisasi telah mengubah hampir seluruh sektor industri. Namun di sisi lain, banyak kurikulum masih berfokus pada metode konvensional yang sudah digunakan selama bertahun-tahun.
Lulusan akhirnya memiliki teori, tetapi sering kali kurang siap menghadapi kebutuhan perusahaan modern.
Di era sekarang, perusahaan tidak hanya mencari orang yang memahami pencemaran air atau pengelolaan limbah. Mereka juga membutuhkan kemampuan membaca data, menggunakan perangkat digital, memahami sistem ESG (Environmental, Social, and Governance), menghitung jejak karbon, serta mengoperasikan teknologi pemantauan lingkungan secara real-time. Permintaan terhadap kompetensi seperti ini justru terus meningkat. (Masoem University)
Inilah yang menurut saya menjadi persoalan utama.
Jika kurikulum tidak bergerak mengikuti perkembangan industri, maka lulusan akan semakin tertinggal. Dunia kerja tidak menunggu kampus beradaptasi.
Banyak mahasiswa masuk Teknik Lingkungan dengan harapan memiliki prospek kerja luas. Kenyataannya, sebagian lulusan merasa kesulitan bersaing karena perusahaan kini menginginkan kombinasi kemampuan teknik, teknologi digital, analisis data, dan komunikasi bisnis. (Cakrawala University)
Saya juga melihat adanya perubahan cara perusahaan memandang isu lingkungan.
Dulu lingkungan sering dianggap sekadar kewajiban regulasi.
Sekarang lingkungan telah menjadi bagian dari strategi bisnis. Investor menilai laporan keberlanjutan, perusahaan menghitung emisi karbon, dan berbagai industri membutuhkan tenaga yang memahami ESG. Artinya, kebutuhan terhadap ahli lingkungan justru masih besar, tetapi kompetensi yang dibutuhkan sudah berbeda dibanding sepuluh tahun lalu. (Masoem University)
Karena itu, menurut saya pertanyaan yang tepat bukanlah:
“Apakah Teknik Lingkungan masih relevan?”
Melainkan:
“Apakah kurikulum Teknik Lingkungan sudah mengikuti perkembangan industri?”
Jika jawabannya belum, maka inilah yang harus dibenahi.
Mahasiswa perlu dibekali kemampuan menggunakan AI sebagai alat bantu analisis, memahami data science dasar, pemrograman sederhana, sistem sensor lingkungan, teknologi energi terbarukan, serta kemampuan bisnis dan manajemen proyek. Lulusan yang memiliki kombinasi kemampuan tersebut akan jauh lebih siap menghadapi persaingan global.
Saya percaya Indonesia tetap membutuhkan insinyur lingkungan.
Namun Indonesia membutuhkan insinyur lingkungan yang mampu memimpin transformasi teknologi, bukan hanya menjalankan prosedur lama.
Kampus harus berani berubah sebelum industri berubah lebih jauh.
Karena pada akhirnya, dunia kerja tidak bertanya dari jurusan apa seseorang berasal.
Dunia kerja bertanya satu hal:
“Masalah apa yang bisa Anda selesaikan?”
Konten Eksklusif Premium
Langganan Premium Rp 75.000 untuk membaca artikel ini selengkapnya.
Penulis: Kelvin yuka Yahya
Redaktur: Tim Redaksi