Kelvin : Mengapa di Sebagian Lingkungan Berpenghasilan Rendah Gosip dan Rasa Iri Terlihat Lebih Menonjol?
Di tengah kehidupan masyarakat, sering muncul anggapan bahwa di sebagian lingkungan berpenghasilan rendah, gosip, rasa iri, dan kebiasaan mengomentari kehidupan orang lain tampak lebih sering terjadi. Ketika ada tetangga membeli sepeda motor baru, merenovasi rumah, mendapat pekerjaan yang lebih baik, atau usahanya mulai berkembang, tidak jarang muncul bisik-bisik, dugaan, hingga komentar negatif.
Apakah hal tersebut benar-benar disebabkan oleh kemiskinan?
Dari sudut pandang psikologi, jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Kemiskinan bukan penyebab seseorang menjadi suka bergosip atau iri. Banyak orang dengan kondisi ekonomi sederhana tetap rendah hati, saling mendukung, dan ikut senang melihat orang lain berhasil. Sebaliknya, orang yang hidup berkecukupan pun bisa memiliki sifat iri, kompetitif secara tidak sehat, atau gemar membicarakan kehidupan orang lain.
Namun, para psikolog menjelaskan bahwa tekanan hidup dan lingkungan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku.
Ketika seseorang hidup dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, perhatian mentalnya sering tersita untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam psikologi, kondisi ini dapat membuat seseorang lebih fokus pada ancaman, perbandingan sosial, dan apa yang dimiliki orang lain. Jika melihat tetangga mengalami kemajuan, sebagian orang bisa bertanya dalam hati, “Mengapa dia bisa, sementara saya belum?”
Perasaan seperti itu sebenarnya wajar. Hampir semua manusia pernah membandingkan dirinya dengan orang lain. Psikologi menyebutnya sebagai perbandingan sosial (social comparison). Kita cenderung menilai diri sendiri dengan melihat orang di sekitar kita. Masalah muncul ketika perbandingan tersebut berubah menjadi rasa iri yang berkepanjangan, prasangka, atau keinginan menjatuhkan orang lain.
Lingkungan juga memiliki peran besar. Di kawasan yang warganya tinggal berdekatan dan saling mengenal, kehidupan sehari-hari lebih mudah terlihat. Aktivitas kecil pun cepat menjadi bahan pembicaraan. Semakin tinggi intensitas interaksi, semakin besar peluang munculnya gosip. Bukan karena semua orang berniat buruk, tetapi karena rasa ingin tahu dan komunikasi informal menjadi bagian dari kehidupan sosial.
Selain itu, psikologi mengenal konsep kelangkaan (scarcity mindset). Ketika seseorang merasa sumber daya seperti uang, pekerjaan, atau peluang sangat terbatas, ia bisa lebih mudah memandang keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Padahal, keberhasilan satu orang tidak selalu mengurangi kesempatan orang lain.
Media sosial juga memperkuat fenomena ini. Orang cenderung hanya membagikan momen terbaik dalam hidupnya. Akibatnya, sebagian orang merasa tertinggal dan mulai membandingkan kenyataan hidupnya dengan “etalase” kehidupan orang lain. Perbandingan yang terus-menerus dapat memicu rasa iri, rendah diri, bahkan stres.
Di sisi lain, lingkungan yang lebih makmur juga tidak bebas dari gosip. Bedanya, topik yang dibicarakan sering berubah. Persaingan bisa berkaitan dengan jabatan, investasi, bisnis, status sosial, pendidikan anak, atau jaringan pergaulan. Artinya, gosip dan rasa iri bukanlah persoalan kelas ekonomi semata, melainkan bagian dari dinamika manusia.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Siapa yang paling sering bergosip?” tetapi, “Mengapa kita lebih tertarik membicarakan kehidupan orang lain daripada memperbaiki kehidupan sendiri?”
Psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki tujuan hidup yang jelas, rasa percaya diri yang sehat, serta kesibukan yang bermakna umumnya lebih sedikit menghabiskan energi untuk membandingkan diri dengan orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang merasa hidupnya tidak berkembang, ia bisa lebih mudah mencari pelampiasan melalui gosip, penilaian negatif, atau rasa iri.
Membangun lingkungan yang sehat tidak cukup hanya dengan meningkatkan pendapatan. Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya saling mendukung, menghargai keberhasilan orang lain, serta meningkatkan literasi psikologi dan keuangan. Ketika masyarakat mulai melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman, hubungan sosial akan menjadi lebih positif.
Pada akhirnya, kualitas sebuah lingkungan tidak hanya diukur dari tingkat pendapatannya, tetapi juga dari kualitas pola pikir dan budayanya. Semakin banyak orang memilih belajar daripada menghakimi, bekerja daripada membandingkan, dan mendukung daripada menjatuhkan, semakin besar peluang lingkungan tersebut untuk berkembang bersama.
Konten Eksklusif Premium
Langganan Premium Rp 75.000 untuk membaca artikel ini selengkapnya.
Penulis: Kelvin yuka Yahya
Redaktur: Tim Redaksi